Nugroho’s Articles

Masukan dari Mei 2006

Terima kasih Pak Sar …

Mei 9, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

Trima kasih ku ku ucapkan …
pada Guru ku yang tulus
Ilmu yang berguna slalu kau limpahkan
Untuk bekalku nanti …

Setiap hariku dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan ku ingat slalu nasihat Guruku
Trima kasihku untuk mu….

Kiranya kita semua ingat dengan bait-bait lagu tersebut …, ya Hymne guru, tahun 1980 sebuah sajian indah ini dipersembahkan untuk Guru. Bait-bait itupun memang diciptakan oleh seorang bapak tua sederhana yang juga berprofesi sebagai Guru. Pak Sartono, seorang yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan hingga usianya 67 tahun. Tapi saya bukan mau berbicara lebih jauh tentang bagai mana dia mencipta lagu atau pun bagaimana dia mengajar… saya hanya ingin memberikan sedikit cerita dari perjalanan hidupnya, yang juga mungkin cerita ini adalah sebagian banyak juga dari cerita para pahlawan tanpa tanda jasa.
Tahukah anda bahwa …Pencipta lagu ini ternyata hingga masa pensiunnya di usia 67 tahun sebagai guru tahun 2000, hanya berstatus sebagai guru tidak tetap dengan gaji Rp 60.000, subhanallah …
sepertinya saya bukan orang yang cukup kuat seperti beliau untuk melaluinya.
Apa ada penghargaan pak ??, ya ada tapi hanya beberapa carik kertas piagam, dan ucapan terima kasih. Ah ini juga sudah cukup nak …, ya Pak… kiranya kalau kita melalui ini dengan memandang materi maka tidak akan ada habis-habisnya, japi jika kita berdiri dengan senyum dan menghadapinya dengan ikhlas, maka kita InsyaAllah mudah-mudahan termasuk golongan orang yang bershabar dan menyadari bahwa bagaimanapun Allah maha Adil.
Untuk pemerintah … adalah benar bahwa pemerintah tidak berlaku selayaknya bagi seseorang yang telah mengabdi dan memberikan karya terbaiknya. Dan sepertinya belum terlambat jika mau … sekarang .. selagi Pak Sar masih ada … mungkin beliau setidaknya ingin merasakan manisnya jerih payahnya …
Terima kasih Pak Sartono … semoga Allah meridhai mu …

Kategori: 1

Nama adalah do’a, tapi ….

Mei 4, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar


Saya terkadang miris atau setidaknya jengah … mmmh ada teman dengan nama yang indah tetapi berbuat sesuatu yang tidak sesuai norma. Ada teman dengan dengan nama Islami, sayang dia, maaf, berkelakuan diluar makna dari namaya. Ada pula shahabat, dia mempunyai nama seperti nama besar seorang pahlawan, sayang dia berbuat diluar sisi kepahlawanan namanya, bahkan malah mencoreng nama besar itu. Maka tidak salah memang jika ada orang yang mengatakan ‘Apalah artinya sebuah nama?’
Lepas dari itu semua, sadar atau tidak, sebenarnya dia tahu arti dari nama-nama yang diberikan orang tuanya, bahkan sebagian besar bangga dengan nama dia, saya senang di bisa bangga dengan namanya. Namun sepertinya ada yang kurang, nama hanya sebatas nama dan tanpa diikuti oleh kearifan dan keteladanan si pemegang nama seperti halnya rahasia dibalik setiap nama itu. Karena pada dasarnya setiap nama itu dahulunya adalah bentuk cerminan pengharapan dan keinginan kelak dari para orang tua terhadap anaknya. Ya .. nama adalah Do’a.
Lalu apa yang salah sehingga banyak yang salah dengan pemakai nama-nama tersebut ??
Apa salah pemegang nama ? Atau salah pendidik si pemegang nama? Atau salah memberikan nama ?
Banyak…mmh …. setidaknya semua pengharapan dan keinginan yang terwakili dalam sebuah nama bisa terwujud bila kita menyadari beberapa hal. Pertama, setiap do’a tentunya merupakan permintaan yang tulus dari seorang hamba kepada Tuhannya. Maka begitu pun dengan nama, nama di berikan dengan iringan permohonan yang tulus kepada Allah SWT.
Kedua, setiap pengharapan tentunya tidak akan terwujud dengan begitu saja menggantungkan diri pada sebuah nama. Lebih dari itu kita harus menggenapinya dengan memberikan pendidikan bagi si pemegang nama dengan sebaik-baiknya. Menjauhkan dari segala perbuatan tercela yang dilarang olehNya, dan mengarahkan menuju kepada jiwa-jiwa pengharapan dalam nama yang di sandangnya. Ketiga, kita harus memberikan lingkungan yang bagus bagi anak-anak sedari dini, sebab banyak orang justru terpengaruh dengan perilaku buruk bukan saja hanya dari keluarganya tapi juga dari lingkungan sekitarnya.
Nah kini kita tahu … nama adalah do’a tapi … tidak seluruhnya hanya bergantung pada nama, tapi juga[pada do’a dan usaha dari orang tua dan lingkungan yang mendukung.
Kanggo Kang Didin sareng Akh Jamal
Barrakallahu…semoga mereka menjadi anak-anak yang shaleh shalehah

Kategori: 1

Politicall Will !! ( Bagian1)

Mei 3, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

Dari Sampah busuk hingga Pendidikan!
Tempo hari saya mengendarai sepeda motor untuk menjemput istri tercinta pulang kerja. Seperti biasa jalanan yang saya lewati dari rumah adalah simpang Cimindi-cimahi masuk Gunung batu dan menuju pasteur…
sebenarnya tidak yang aneh dari rute ini… hanya saja saat melewati pasteur ada sesuatu yang mengganggu perjalanan… sepertinya bukan saya saja. Orang lain yang juga mnegndarai sepeda motor atau mobil sekalipun sama terganggunya. Tadinya saya heran kenapa jalan sebagus dan serapih ini bisa ada gangguan dari seperti ini ??…. akh nevermind mungkin hanya kali ini saja… Tapi beberapa saat kemudian menjelang persimpangan menuju Sukajadi, tepatnya di depat Gedung Bina Tani ternyata ada bangunan baru … mmmh sepertinya bangunan yang setara dengan gedung berlantai dua ini tentunya yang sedari tadi mengganggu semua penggunna terusan jalan pasteur.. ah …uph… saya menyeimbangkan stang motor sambil tangan kiri saya menutup jalan nafas di hidung… cih!! Ga kuat rasanya …mual!
Ya saya kira anda sudah mulai bisa menebak bangunan apa itu ?? ya … bangunan itu ada bukit sampah yang semakin menggunung bahkan menutupi semua lapangan parkir Gedung Bina Tani.
ahh.. ini hanya satu dari sekian banyak … tadi di perempatan Cimindi, lain tempat di pasar baros Cimahi, lain tempat lagi di Pasar Ciroyom … ahhh banyak !!!
sepertinya memang benar ada slogan baru kata teman saya untuk kota Bandung …Kota Sampah .. Kota dimana pemerintahannya tidak mempuntai Political Will… dana banyak tapi kemana ??, dana ada tapi dimana?? Jawa Barat kaya tapi apa buktinya??.
Jika pemerintah serius menangani sampah sebetulnya yang harus ada pertama dan yang paling utama adalah Political Will !, kalau ada keinginan keras untuk mengelola sampah pasti bisa! Kenapa tidak ? … sekali lagi political will!
Tidak usah membandingkan dengan kota lain dimana Pemda nya memble juga dalam mengelola sampah … Tetapi seharusnya kita berfikir bagaimana mengukir prestasi dengan mengatur kebersihan kota sendiri.

Kategori: 1

Buah Kejujuran

Mei 3, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar


Syeikh Abdul Kadir semasa berusia 18 tahun meminta izin ibunya merantau ke Baghdad untuk menuntut ilmu agama. Ibunya tidak menghalang cita-cita murni Abdul Kadir meskipun keberatan melepaskan anaknya berjalan sendirian beratus-ratus kilo meter jaraknya. Sebelum pergi ibunya berpesan supaya jangan berkata bohong dalam apa jua keadaan. Ibunya membekalkan wang 40 dirham dan dijahit di dalam pakaian Abdul Kadir.
Selepas itu ibunya melepaskan Abdul kadir pergi bersama-sama satu rombongan yang kebetulan hendak menuju ke Baghdad. Dalam perjalanan, mereka diserang oleh 60 orang penyamun. Habis harta kafilah dirampas tetapi penyamun tidak mengusik Abdul Kadir kerana menyangka dia tidak mempunyai apa-apa. Salah seorang perompak bertanya Abdul Kadir apa yang dia punya. Abdul Kadir menerangkan dia ada wang 40 dirham di dalam pakaiannya. Penyamun itu hairan dan melaporkan kepada ketuanya. Pakaian Abdul Kadir dipotong dan didapati ada wang sebagaimana yang diberitahu.
Ketua penyamun bertanya kenapa Abdul Kadir berkata benar walaupun diketahui wangnya akan dirampas? Abdul Kadir menerangkan yang dia telah berjanji kepada ibunya supaya tidak bercakap bohong walau apa pun yang berlaku. Apabila mendengar dia bercakap begitu, ketua penyamun menangis dan menginsafi kesalahannya. Sedangkan Abdul Kadir yang kecil tidak mengingkari kata-kata ibunya betapa dia yang telah melanggar perintah Allah sepanjang hidupnya. Ketua penyamun bersumpah tidak akan merompak lagi. Dia bertaubat di hadapan Abdul Kadir diikuti oleh pengikut-pengikutnya.
Pesan Moral & Hikmah
Ilmu Agama perlu dituntut meskipun terpaksa berjalan jauh.
Kata-kata ibu menjadi pendorong dan perangsang dalam hidup.
Berkata benar adalah satu kekuatan yang boleh memberi keinsafan
kepada orang lain. Niat yang baik dan ikhlas mendapat keberkatan daripada Allah.

Kategori: 1

Bisnis Birokrasi

Mei 3, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar


Teman saya ini hanya seorang pegawai administrasi di sebuah sekolah SD swasta, gajinya kecil alias pas-pasan buat hidup. Beberapa waktu yang lalu dia bercerita, bahwa beberapa hari yang lalu, dia baru saja memproses pembayaran pajak kendaraan bermotornya. Motor bebek keluaran tahun 2000. kebetulan sekali sebenarnya, saya tadinya tidak tertarik, hanya saja karena pajak motor saya mau habis juga masa berlakunya maka saya mau mendengarkan ceritanya.
“ Pertama dia datang ke kantor samsat tempat pembayaran pajak. Di pintu dia sudah disambut oleh seorang petugas polisi yang segera menyapa, “Bayar pajak motor Pak.?”
“iya” jawab teman saya yang heran karena seakan petugas itu sudah tahu kedatangan dia. Padahal orang yang datang kesitu bisa macam-macam keperluannya. Setiap loket diruangan itu dipenuhi antrian orang. “oo.. coba saya lihat STNKnya…” pintanya tanpa ragu. Teman saya yang tidak tahu menahu kondisi ruangan itu hanya melongo sambil merogoh dompetnya dan mengeluarkan STNK motor miliknya. Sejenak polisi itu melihat bagian belakang stnk dibana bukuti pembayaran pajak serta masa berlakunya tertera. “ Oo… 270 ribu !, Coba sini pak sama saya saja biar cepat”. Tanpa banyak komentar teman saya langsung menyerahkan uang sebesar 270 ribu.
Setelah menunggu sebentar penjaga loket pembayaran memanggil nama teman saya dan mengatakan bahwa proses pembayaran sudah selesai. Sudah pak ! 170 ribu plus jalur cepat, terima kasih.” Katanya sambil kemudian memanggil nama antrian lain.
Teman saya sebenarnya heran. Dia mau bertanya kepada siapa pun tidak tahu. Terlebih beberapa orang yang mengantri menyapanya dengan kata “ Enak ya pak jalur cepat ….”

Sepertinya cerita teman saya ini hanya merupakan bagian kecil dari banyak sekali saudara-saudara kita yang juga menjadi korban bisnis birokrasi yang ada di negara kita. Alasan yang disampaikan simpel saja… uang buat administrasi…,buat uang lelah.., buat rokok petugas ..kasihan, biaya formulir atau blanko dan lain sebagainya.
Mau tidak mau memang bisnis birokrasi sudah sedemikian merajalela dan menjadi mafia tersendiri. 100% pendapatan akan dibagi-bagiakan rata mulai dari kepala hingga bawahan.pfuihh…. rasanya memang menyebalkan kalau kita harus mendengar atau bahkan berurusan dengan yang satu ini.

Kenapa harusa ada birokrasi yang berbelit, kenapa kalupun birokrasi itu cepat tapi harus dibayar, mentalitas apa yang menjangkiti aparat kita yang seharusnya menjadi pelayan ummat, malah menjadi pembajak. Sadarkah mereka bahwa kelak semua perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban.
Dari cerita teman saya ini, saya jadi teringat kepada salah seorang shahabat nabi yaitu Umar Bin Khatab. Dia seorang khlifah yang pada masa pemerintahannya sangat menjaga manah rakyat. Hingga beliau menyebut bahwa setiap pemimpin adalah pelayan bagi ummat. Setiap pengeluaran negara harus diawasi ketat hingga tidak ada fitnah dana dipakai untuk hal lain diluar urusan kenegaraan. Setiap jalur birokrasi yang hanya akan memakan waktu dan biaya harus segera di hilangkan. Sehingga pelayanan kepada ummat akan dirasakan sebagai sebuah ‘pertolongan’ dan bukan ‘musibah’.
Sepertinya kita memang merindukan pemimpin seperti umar bin khatab yang tegas memotong setiap jalur birokrasi yang ada dalam pemerintahannya untuk efisiensi dan menghindarkan diri dari godaan fitnah.
April 2006
Ishbir Akhi,’ May Allah be with You

Kategori: 1

Tolong, Rawatlah Puisi Ini

Mei 2, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

Simpan di tempat teduh
Jangan sampai terbakar angkara
Atau Tergenang Air mata

Biarkan menjadi kata-kata lembut,
Yang bertenaga Yang bara
Sekaligus menyimpan lautan cinta

Rawatlah dan kabarkan atas nama
Yang maha puisi

Dari Dewadaru 2002

Kategori: 1

Satu lagi tentang RUU APP

Mei 2, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

Sebenarnya aku tidak mau berkomentar lagi tentang RUU APP, tapi rasanya perlu di tuliskan contoh lagi apa yang aku lihat dalam berita di salah satu stasiun televisi…(28/4/2006), ‘ada seorang anak yang baru berusia 13 tahun, rela memperkosa keponakannya sendiri yang baru berusia 3,5 tahun, dengan alasan selalu terbuai imajinasi karena sering menonton VCD porno.
Bagaimana kalau keduanya yang disebutkan dalam berita diatas adalah bagian dari keluarga kita, apakah kita rela?? Apakah kita malu? Apakah kita cemas dengan masa depan mereka?.
Bagi para artis dan seniman sebagai bagian dari bangsa ini saya menghargai kalau seni itu adalah bagian dari kehidupan manusia yang ada dimuka bumi ini termasuk di Indonesia, saya tahu kalau bagian dari keindahan tubuh adalah sesuatu yang menarik..karena fitrah sebagai manusia adalah diberikan nikmat ketertarikan terhadap lawan jenis oleh Pencipta kita. Namun bukan berarti semuanya di jadikan sebagai dasar untuk berbuat norma-norma yang juga aturan-atuanNya.

Bukankah manusia diciptakan untuk tunduk dan patuh terhadap Tuhan nya. Apapun itu Agamanya.

Kategori: 1

RUU APP,… antara Al-haq dan Al-Bathil

Mei 2, 2006 · & Komentar

Akhh… sebenernya aku muak untuk menuliskan apa yang ku baca di running text (19 April 2006) di salah satu stasiun televisi tadi pagi. Bagaimana tidak, dari 1200 lebih penderita HIV/Aids di Jawa Barat,…729 diantaranya terdapat di kota Bandung. Sepertinya malu kalau banyak para ulama muda..banyak para kiai… banyak para cendekiawan lahir dikota Bandung. Pikiran kita mungkin yang terbayang adalah wah… banyak juga pelacur, wanita penghibur, pramuria…pria hidung belang Gigolo dan nama sampah lainnya ternyata banyak sekali dikota Bandung. Seakan vonis terjangkit HIV/Aids hanya disandang oleh nama-nama sampah.
Namun perlu diketahui bahwa tidak sedikit dari sekian yang terjangkiti di Bandung adalah berasal dari kalangan Mahasiswa, Karyawan, Pelajar. Astaghfirullah … bagaimana tidak Bandung, sebagai kota pelajar… Banyak perguruan tinggi ternama.. banyak kiai dan ustadz saja sudah mempunya penderita HIV/Aids sedemikian banyak. Tidakkah sadar bahwa RUU APP harus segera di buat dan disahkan dengan dasar penyelamatkan nasib generasi muda kita.
Sebenarnya Aku tidak mau menghubungkan berita pada Running text ini dengan berita lain yang di sampaikan dengan jelas….tentang aksi penolakan RUU APP (Baca ; Rancangan Undang- Undang Anti Pornoaksi dan Pornografi). Tapi sepertinya mereka semua yang beraksi dengan mengatas namakan ketertidasan HAM, kebebasan berpakaian, hingga para artis dan seniman yang menTuhankan tubuh (Baca : Aurat) sebagai seni… hasil karya dan sebagainya … Rasanya semuanya sudah tidak punya Nurani lagi… rasanya semuanya telah dibutakan oleh syetan.., seorang politisi muda dilayar kaca mengatakan ‘saya setuju dengan penolakan pornoaksi dan pornografi.., hanya definisinya terlalu kabur..sepertinya harus direvisi ….’,
Di lain pendapat, ada seorang artis senior berkomentar juga, mengapa harus membuat RUU APP… pikirkan saja tentang hutan yang di babat oleh para pembalak, uang negara yang dikorupsi rakyat miskin yang kelapan …..
Adalah benar semuanya pun harus difikirkan oleh pemerintah… tapi bukankah moral bangsa ini juga harus diselamatkan, kita tidak mau tentunya para generasi muda kita sehari-harinya hanya terbuai oleh fikiran maaf mesum .
Bangsa kita mempunyai masalah yang sangat banyak…., siapa yang akan memikirkan dan mencari solusi semua per masalahan tersebut kelak. Apa jadinya kalau pemuda kita pun terjebak dalam kehidupan galmour hedonisme yang setali dua uang dengan kehidupan pornografi dan pornoaksi. Naudzubillahimindzalik.
Untuk para Mujahid Da’wah teruslah berjuang…..
Ini adalah pertarungan Al-Haq dan Al- Bathil.

Kategori: 1